BERLIN – Pemerintah Jerman melalui Menteri Luar Negeri Wadephul mendesak Iran untuk segera membuka kembali akses Selat Hormuz dan menghentikan pengembangan senjata nuklir di Berlin baru-baru ini. Langkah diplomatik ini diambil sebagai respons cepat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman untuk menarik 5.000 personel pasukan militernya dari wilayah Jerman. Ketegangan ini memicu kekhawatiran Jerman terhadap stabilitas keamanan global serta kelancaran distribusi energi dunia yang bergantung pada jalur maritim strategis tersebut.
Wadephul menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian kebijakan militer Amerika Serikat, Iran harus menunjukkan komitmennya terhadap perdamaian internasional agar eskalasi konflik tidak semakin meluas. Ia menekankan pentingnya transparansi Iran demi menjaga keseimbangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa. “Kami mendesak Iran untuk segera membuka Selat Hormuz dan meninggalkan ambisi senjata nuklir demi stabilitas kawasan,” tegas Wadephul dalam pernyataan resminya menanggapi manuver politik Trump.
Ancaman penarikan pasukan oleh Trump ini dianggap sebagai tekanan besar bagi Jerman dalam mempertahankan kekuatan pertahanan NATO di kawasan Eropa. Dengan menekan Iran, Jerman berupaya mengambil inisiatif untuk menjaga keamanan pasokan minyak dunia sekaligus memastikan bahwa sengketa nuklir tidak menjadi penghambat perdagangan global. Hingga kini, komunitas internasional masih menunggu respons Iran terkait desakan Jerman serta kelanjutan rencana pengurangan pasukan militer Amerika Serikat tersebut.

