SIKKA – Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, Yustina, seorang guru honorer di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menghadapi realitas pahit dengan menerima upah hanya sebesar Rp150.000 per bulan. Penghasilan yang jauh dari kata layak ini ia peroleh dari hasil iuran sukarela orang tua siswa demi menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolahnya. Kondisi memprihatinkan ini mencerminkan masih adanya ketimpangan kesejahteraan tenaga pendidik yang mencolok di daerah pelosok Indonesia.
Meskipun harus bertahan dengan pendapatan yang sangat minim, dedikasi Yustina terhadap dunia pendidikan tidak luntur. Ia tetap menjalankan tugasnya mendidik anak-anak meskipun tantangan ekonomi terus menghimpit di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. Dana yang terkumpul dari iuran orang tua tersebut seringkali tidak menentu jumlahnya, namun Yustina tetap memilih untuk setia mengabdi demi masa depan generasi muda di wilayah Sikka yang masih kekurangan tenaga guru tetap.
Yustina mengungkapkan bahwa motivasi utamanya bukanlah materi, melainkan kepedulian mendalam terhadap nasib pendidikan para siswanya. “Saya tetap mengajar karena kasihan dengan anak-anak kalau tidak ada guru, meskipun gaji saya hanya Rp150 ribu dari uang iuran orang tua,” tuturnya dengan penuh ketabahan saat menceritakan perjuangannya. Ia sangat berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih nyata terhadap nasib guru honorer di daerah terpencil agar mereka mendapatkan upah yang manusiawi.
Kisah pilu ini memicu keprihatinan publik dan menyoroti urgensi evaluasi kebijakan distribusi serta kesejahteraan guru di tingkat daerah. Perlu adanya langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Sikka dan instansi terkait untuk memastikan bahwa pahlawan tanpa tanda jasa seperti Yustina mendapatkan hak yang layak. Hal ini krusial dilakukan demi mewujudkan kualitas pendidikan nasional yang merata dan berkeadilan di seluruh pelosok negeri.

