SIDOARJO – Genap dua dekade sejak bencana semburan lumpur Lapindo pertama kali muncul di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, ribuan warga terdampak hingga kini masih memendam luka mendalam akibat kehilangan tanah kelahiran dan ruang hidup mereka. Peristiwa yang dimulai pada Mei 2006 tersebut telah menenggelamkan belasan desa, menghancurkan lapangan pekerjaan, serta memaksa penduduk pindah demi mencari keselamatan meski harus meninggalkan kenangan masa kecil yang terkubur di bawah rendaman lumpur panas.
Kehidupan para penyintas setelah 20 tahun berlalu dipenuhi dengan perjuangan untuk beradaptasi di lingkungan baru yang jauh dari suasana kampung halaman yang asri. Banyak warga yang merindukan kenyamanan hunian mereka sebelum bencana terjadi, di mana udara bersih dan pemandangan hijau masih bisa dinikmati tanpa dihantui aroma gas yang mengganggu kesehatan. Dampak psikologis dan ekonomi ini menjadi beban berkepanjangan bagi generasi yang kehilangan warisan properti dan identitas sosial mereka sebagai warga asli Sidoarjo.
Harapan sederhana akan kehidupan yang layak sering kali terucap dari para korban yang mendambakan pemulihan kondisi lingkungan secara total. Salah satu warga yang terdampak mengungkapkan kerinduan mendalamnya terhadap suasana rumah yang ideal pasca-bencana. “Ingin rumah bagus, banyak bunga, tidak ada bau menyengat,” ujar salah satu penduduk yang merangkum impian kolektif warga korban Lapindo untuk bisa kembali hidup normal tanpa gangguan sisa-sisa bencana yang tak kunjung usai.

