WASHINGTON – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu gelombang protes internasional setelah melontarkan lelucon kontroversial yang membawa-bawa nama ‘Mohammad’ saat berpidato dalam acara kampanye pemilihan presiden baru-baru ini di Amerika Serikat. Pernyataan tersebut dianggap sebagai bagian dari retorika provokatif untuk menarik perhatian pemilih, namun justru berakhir dengan kecaman luas dari berbagai organisasi hak asasi manusia dan komunitas Muslim global karena dinilai tidak menghormati identitas keagamaan.
Dalam orasinya, Trump menyinggung popularitas nama ‘Mohammad’ di berbagai belahan dunia dengan nada bercanda yang dianggap merendahkan oleh banyak pihak. Aksi ini memperpanjang daftar panjang pernyataan kontroversial sang kandidat dari Partai Republik tersebut mengenai isu rasial dan agama yang seringkali membelah opini publik di tengah persaingan ketat menuju kursi kepresidenan. Kritik tajam pun berdatangan karena gaya komunikasi tersebut dianggap dapat memperburuk sentimen Islamofobia.
Menanggapi hal tersebut, salah satu aktivis dari lembaga pemantau hak sipil memberikan pernyataan tegas terhadap sikap sang politikus. “Retorika seperti ini tidak hanya tidak sopan, tetapi juga sangat membahayakan keharmonisan sosial dengan menyudutkan identitas agama tertentu demi kepentingan politik sesaat,” tegas seorang juru bicara organisasi kemanusiaan dalam keterangannya kepada media massa.
Hingga saat ini, tim kampanye Donald Trump belum memberikan pernyataan resmi atau klarifikasi lebih lanjut mengenai maksud di balik lelucon tersebut. Sementara itu, gelombang kritik di media sosial terus meningkat, di mana publik mendesak adanya etika berkomunikasi yang lebih baik dari para calon pemimpin negara guna menjaga toleransi antarumat beragama di kancah global.

