SEOUL – Seorang kurir paket bernama Jang Deok-jun ditemukan meninggal dunia di Seoul, Korea Selatan, setelah menyelesaikan sif malam yang menguras tenaga di tengah ketatnya persaingan industri pengiriman ekspres. Tragedi ini terjadi akibat kelelahan kronis yang membuat berat badan pria tersebut turun drastis hingga 15 kilogram sebelum akhirnya ia menghembuskan napas terakhir. Insiden memilukan ini memicu perdebatan nasional mengenai standar keselamatan kerja dan beban berat yang harus ditanggung para pekerja logistik demi mengejar target pengiriman kilat.
Kematian Jang Deok-jun mengungkap realitas pahit di balik kenyamanan layanan pengiriman satu hari yang sangat populer di Negeri Ginseng tersebut. Pihak keluarga dan serikat pekerja menyoroti jam kerja ekstrem yang memaksa para kurir bekerja tanpa istirahat yang memadai untuk memenuhi kuota harian. “Anak saya meninggal karena kelelahan kronis setelah bekerja terus-menerus tanpa istirahat yang cukup di bawah tekanan target perusahaan yang tidak manusiawi,” ujar perwakilan keluarga dalam sebuah pernyataan resmi yang menuntut keadilan bagi almarhum.
Fenomena kematian akibat kerja berlebihan, atau yang dikenal dengan istilah ‘gwarosa’, kini menjadi perhatian serius pemerintah Korea Selatan untuk segera mereformasi regulasi ketenagakerjaan. Kasus ini diharapkan menjadi momentum bagi perusahaan layanan ekspres untuk lebih memprioritaskan kesehatan para pekerja dibandingkan kecepatan distribusi barang. Dengan adanya tekanan publik yang semakin kuat, industri logistik didesak untuk menghapus sistem kerja yang eksploitatif guna mencegah jatuhnya korban lebih lanjut di masa depan.

