NEW YORK – Sejumlah kelompok bisnis di Amerika Serikat memperingatkan potensi kekacauan ekonomi besar setelah Sekretaris Keamanan Dalam Negeri, Markwayne Mullin, mengusulkan penarikan layanan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) dari bandara-bandara di kota ‘sanctuary’ seperti Boston, New York, dan Los Angeles baru-baru ini. Langkah kontroversial ini bertujuan untuk menekan kota-kota yang menolak bekerja sama penuh dengan otoritas imigrasi federal, namun dikhawatirkan akan memutus akses penerbangan internasional yang vital bagi perdagangan dan pariwisata global secara instan.
Rencana tersebut memicu kekhawatiran serius mengenai kelangsungan operasional di pusat transportasi udara tersibuk di dunia, karena tanpa petugas CBP, pesawat dari luar negeri tidak dapat mendarat secara legal. Para pelaku usaha menyatakan bahwa penghentian layanan bea cukai secara mendadak akan melumpuhkan rantai pasok logistik internasional dan merugikan sektor bisnis hingga miliaran dolar. “Menarik petugas bea cukai dari bandara utama kami akan menciptakan kekacauan logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya dan merusak reputasi AS sebagai pusat bisnis global,” ungkap perwakilan kelompok bisnis dalam pernyataan resminya.
Hingga saat ini, ancaman tersebut telah memicu perdebatan panas antara pemerintah federal dan otoritas lokal terkait status kota perlindungan bagi imigran. Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, jutaan penumpang dan ribuan ton kargo internasional akan terdampak setiap harinya, memaksa maskapai internasional untuk mengalihkan rute atau membatalkan penerbangan ke Amerika Serikat. Para ahli memperingatkan bahwa stabilitas ekonomi nasional menjadi taruhan jika kepentingan politik mengganggu fungsi dasar infrastruktur transportasi negara.
