BOGOTA – Masyarakat Kolombia kini tengah dihebohkan oleh pergeseran makna jersey kuning ikonik tim nasional sepak bola mereka yang berubah menjadi simbol pernyataan politik di Bogota selama masa kampanye pemilihan presiden. Fenomena ini mencuat setelah seorang kandidat presiden yang mendapat dukungan dari Donald Trump dituding mengkooptasi seragam kebanggaan tersebut untuk kepentingan elektoralnya. Langkah ini memicu perdebatan luas karena jersey yang semula merupakan simbol pemersatu bangsa kini justru dianggap menciptakan polarisasi dan ketegangan di tengah masyarakat.
Penggunaan atribut olahraga dalam ranah politik ini dianggap merusak nilai netralitas sepak bola yang selama ini menjadi kebanggaan warga. Banyak pendukung timnas merasa keberatan karena identitas nasional mereka seolah dibajak untuk kepentingan kelompok tertentu dalam pemilu yang sengit. Menanggapi situasi tersebut, salah satu warga menyatakan keberatannya terhadap politisasi simbol negara tersebut. “Jersey ini adalah milik seluruh rakyat Kolombia tanpa memandang pilihan politik, sangat disayangkan jika kini ia justru digunakan untuk memecah belah kita,” ungkap seorang penggemar sepak bola di pusat kota Bogota.
Hingga saat ini, kontroversi mengenai batas penggunaan simbol nasional dalam kampanye politik terus menjadi topik hangat di media sosial maupun ruang publik Kolombia. Kasus ini menambah daftar panjang bagaimana olahraga seringkali bersinggungan dengan dinamika kekuasaan di wilayah Amerika Latin. Dampaknya, sebagian warga kini merasa ragu untuk mengenakan jersey kuning di tempat umum guna menghindari kesalahpahaman terkait afiliasi politik mereka menjelang hari pemungutan suara.
