JAKARTA – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Jakarta pada Senin (13/07) diwarnai situasi kontras antara gangguan keamanan akibat teror ancaman bom dan antusiasme gerakan positif orang tua. Di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, kegiatan pengenalan sekolah yang seharusnya menjadi momen ceria bagi siswa baru terpaksa dibatalkan demi keselamatan setelah pihak sekolah menerima ancaman bom melalui sambungan telepon. Meski demikian, di lokasi sekolah lainnya, ribuan wali murid tetap menyemarakkan gerakan “Ayah Antar Anak” sebagai bentuk dukungan psikologis bagi anak di hari pertama mereka menuntut ilmu.
Insiden ancaman bom tersebut sempat memicu kekhawatiran di kalangan guru dan orang tua murid yang telah hadir di lokasi sejak pagi hari. Pihak kepolisian segera dikerahkan untuk melakukan sterilisasi area gedung guna memastikan keamanan lingkungan sebelum kegiatan sekolah dilanjutkan kembali. “Kami memutuskan untuk menunda seluruh kegiatan MPLS hari ini demi memprioritaskan keselamatan dan keamanan seluruh anak didik kami,” ungkap salah satu perwakilan pihak sekolah SDN Srengseng Sawah 15 Pagi saat menjelaskan situasi darurat tersebut.
Di sisi lain, tren positif terlihat melalui kampanye masif yang mendorong para ayah untuk meluangkan waktu mengantarkan anak mereka di hari pertama sekolah. Gerakan ini bertujuan untuk memperkuat ikatan emosional serta memberikan rasa nyaman bagi siswa baru saat beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang berbeda. Meski sempat diwarnai insiden keamanan di satu titik, semangat kolaborasi antara orang tua dan institusi pendidikan tetap mendominasi atmosfer tahun ajaran baru di wilayah Jakarta.

