BEIRUT – Eskalasi konflik bersenjata antara militer Israel dan Lebanon telah mengakibatkan sedikitnya 4.304 orang tewas dan 12.203 lainnya luka-luka sejak serangan dimulai pada Maret 2026 di wilayah perbatasan dan Lebanon selatan. Data terbaru ini menunjukkan dampak kemanusiaan yang semakin memburuk akibat gempuran udara dan operasi darat yang terus dilancarkan oleh pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam upaya mereka menetralisir ancaman keamanan.
Situasi di Lebanon selatan kini dilaporkan masih dalam kondisi sangat kritis dengan jumlah korban yang terus bertambah setiap harinya. Selain merenggut ribuan nyawa, serangan bertubi-tubi tersebut juga telah menghancurkan berbagai infrastruktur publik dan memaksa ribuan warga sipil untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman guna menghindari zona pertempuran aktif.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki rencana untuk menarik mundur militer dalam waktu dekat demi menjaga stabilitas kawasan tersebut. “Pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan guna memastikan keamanan wilayah kami dan menetralisir segala bentuk ancaman yang ada,” tegas Netanyahu dalam pernyataan resminya terkait kelanjutan operasi militer tersebut.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus mendesak adanya upaya gencatan senjata untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam di Lebanon. Dunia memantau ketat pergerakan pasukan Israel di wilayah selatan, sementara bantuan medis dan logistik mulai diupayakan untuk menjangkau belasan ribu korban luka yang kini memenuhi fasilitas kesehatan di Lebanon.

