PALU – Ratusan warga di Kota Palu, Sulawesi Tengah, terpaksa memilih untuk tidur di luar rumah pada Selasa malam pascaguncangan gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 6,7 yang melanda wilayah tersebut. Langkah ini diambil oleh masyarakat setempat sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi gempa susulan yang bisa merobohkan bangunan, mengingat trauma mendalam akibat bencana besar yang pernah melanda kota ini sebelumnya.
Kekhawatiran warga tampak jelas dengan banyaknya tenda darurat dan alas tidur seadanya yang dibentangkan di halaman rumah maupun lapangan terbuka. Salah satu warga, Siti (42), mengungkapkan bahwa dirinya belum berani masuk ke dalam rumah karena getaran gempa yang dirasakan sangat kuat. “Kami masih sangat trauma dan takut bangunan tiba-tiba roboh kalau ada gempa susulan yang lebih besar saat kami sedang tidur, jadi lebih baik di luar saja untuk sementara waktu,” ungkapnya dengan nada cemas.
Hingga saat ini, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat masih melakukan pendataan terkait kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. Pemerintah daerah mengimbau agar masyarakat tetap waspada namun tidak mudah termakan berita hoaks, serta menyarankan warga untuk memeriksa kondisi struktur bangunan masing-masing sebelum memutuskan kembali beraktivitas di dalam ruangan.

