BOGOTA – Bogota, Kolombia – Calon presiden unggulan Kolombia, Rodolfo Hernandez, kini menjadi pusat perhatian dunia internasional setelah strategi kampanyenya yang kental dengan maskulinitas dan gaya politik sayap kanan memicu protes keras dari kelompok hak asasi perempuan di Bogota selama periode pemilihan presiden. Hernandez, yang mendapat dukungan dari figur sayap kanan seperti Donald Trump, dinilai menggunakan retorika agresif atau ‘machismo’ yang dikhawatirkan dapat mengikis kemajuan hak-hak perempuan di negara Amerika Selatan tersebut.
Para aktivis melihat adanya pola yang sangat mirip dengan agenda populis sayap kanan global dalam taktik kampanye Hernandez. Penggunaan bahasa yang provokatif dan visi konservatif terhadap peran gender dianggap sebagai ancaman nyata bagi kesetaraan yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun. Salah satu perwakilan kelompok hak asasi perempuan setempat mengungkapkan kekhawatirannya secara lugas. “Strategi ini terasa sangat familiar; ini adalah pola lama di mana retorika agresif digunakan untuk menekan agenda hak-hak dasar perempuan demi kepentingan politik tertentu,” tegas narasumber tersebut.
Situasi ini kian memicu debat nasional di Kolombia mengenai standar kepemimpinan masa depan dan norma gender di ruang publik. Meski Hernandez mengeklaim pendekatannya adalah bentuk ketegasan untuk membawa perubahan, para penentang tetap waspada terhadap dampak jangka panjang bagi perlindungan hukum terhadap perempuan. Dengan tensi politik yang kian memanas, isu representasi perempuan kini menjadi faktor krusial yang akan menentukan arah suara pemilih dalam pemilihan presiden mendatang.
