BANDA ACEH – Sejumlah perempuan penyintas tsunami 2004 di Aceh kembali harus berjuang melawan trauma psikis mendalam setelah bencana banjir dan tanah longsor menghantam wilayah mereka pada November 2025 lalu. Kondisi ini memicu kembali ingatan kolektif tentang musibah besar masa lalu, membuat warga di berbagai daerah terdampak di Aceh merasa tidak tenang setiap kali cuaca ekstrem melanda pemukiman mereka.
Memasuki enam bulan pascabencana banjir tersebut, luka lama para penyintas seolah terbuka kembali karena ancaman bencana yang datang silih berganti. Ketakutan akan datangnya air bah membuat banyak warga mengalami gangguan tidur dan kecemasan berlebih saat intensitas hujan meningkat atau ketika fenomena air pasang terjadi di pesisir pantai.
Salah seorang perempuan penyintas mengungkapkan rasa kalutnya yang belum kunjung reda akibat trauma yang berulang. “Masih trauma kali. Mau hujan, mau air pasang, saya tidak bisa tidur,” tuturnya dengan nada pilu menggambarkan kondisi psikisnya yang selalu waspada terhadap potensi bencana susulan.
Kini, para penyintas sangat membutuhkan dukungan pemulihan trauma (trauma healing) yang berkelanjutan selain bantuan fisik. Upaya mitigasi bencana di Aceh pun diharapkan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan mental masyarakat yang rentan mengalami tekanan psikologis pascabencana alam.

