MOSKOW – Pemerintah Rusia dan Ukraina saling melontarkan tuduhan terkait pelanggaran gencatan senjata tiga hari yang dimediasi oleh Amerika Serikat di wilayah konflik pada pekan ini. Meskipun kesepakatan tersebut dirancang untuk meredam kekerasan, kedua belah pihak mengklaim lawan tetap melakukan provokasi militer di garis depan demi memperkuat posisi masing-masing. Langkah diplomasi Washington ini bertujuan untuk memberikan jeda kemanusiaan, namun realita di lapangan menunjukkan ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
Hingga saat ini, pihak pemantau memang belum melaporkan adanya serangan skala besar sejak kesepakatan tersebut diberlakukan, namun insiden kontak senjata kecil masih terus terjadi. Kondisi ini menyebabkan jumlah korban jiwa terus bertambah di kedua belah pihak secara perlahan. Menanggapi situasi yang memanas, salah satu pihak menyatakan kekecewaannya atas ketidakpatuhan lawan dalam menghormati poin-poin kesepakatan bersama yang telah diteken sebelumnya.
“Kami mencatat adanya upaya sistematis untuk merusak komitmen gencatan senjata ini melalui provokasi di zona-zona sensitif yang seharusnya aman,” ujar juru bicara militer setempat dalam keterangan resminya. Ketegangan yang terus berlanjut ini memicu kekhawatiran internasional akan kegagalan mediasi lebih lanjut. Jika Rusia dan Ukraina tidak segera menahan diri, dikhawatirkan koridor bantuan kemanusiaan bagi warga sipil akan kembali tertutup sepenuhnya.

