BANJARNEGARA – Musim kemarau panjang yang melanda kawasan dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, menyebabkan debit air di Telaga Merdada menyusut drastis sehingga memicu krisis pengairan bagi sekitar 200 petani setempat pada bulan ini. Kondisi telaga yang kian mengering dan kini dipenuhi oleh eceng gondok membuat para petani kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mengairi lahan pertanian kentang dan sayur-mayur mereka yang sangat bergantung pada sumber air tersebut.
Penyusutan volume air ini terlihat jelas dari garis tepian telaga yang semakin menjauh ke tengah, menyisakan daratan lumpur yang pecah-pecah. Kehadiran eceng gondok yang masif di permukaan air juga memperburuk keadaan karena menyulitkan proses pengambilan air menggunakan mesin pompa, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional para petani di tengah cuaca ekstrem.
Keluhan mengenai sulitnya akses air ini mulai disuarakan oleh para penggarap lahan yang khawatir akan potensi gagal panen jika hujan tidak kunjung turun dalam waktu dekat. “Kami sangat bergantung pada Telaga Merdada, jika air terus menyusut dan tertutup eceng gondok, distribusi air ke lahan menjadi sangat sulit dan memakan biaya besar,” ujar salah seorang petani setempat yang terdampak kekeringan.
Hingga saat ini, para petani hanya bisa berharap ada upaya normalisasi atau pembersihan eceng gondok dari pihak terkait guna memaksimalkan sisa air yang ada. Jika kondisi kekeringan ini terus berlanjut tanpa adanya solusi irigasi alternatif, produktivitas pertanian di salah satu sentra sayur terbesar di Jawa Tengah ini dipastikan akan menurun tajam.

