KYIV – Militer Rusia meluncurkan serangan drone dan rudal besar-besaran ke ibu kota Kyiv, Ukraina, pada Senin yang mengakibatkan sedikitnya empat orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Serangan udara mematikan ini terjadi tepat setelah masa gencatan senjata selama tiga hari berakhir, sekaligus menjadi eskalasi terbaru di tengah pernyataan Presiden Vladimir Putin yang sebelumnya sempat mengisyaratkan bahwa perang mungkin akan segera berakhir.
Gelombang serangan ini menghantam berbagai titik strategis dan kawasan pemukiman, memicu kerusakan parah pada infrastruktur kota. Meski sempat ada harapan akan jalur diplomasi, kenyataan di lapangan menunjukkan peningkatan intensitas serangan yang menyasar warga sipil. Terkait insiden ini, otoritas setempat memberikan pernyataan tegas mengenai situasi keamanan yang memburuk. “Serangan ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap warga sipil masih sangat nyata dan mengerikan di tengah upaya diplomasi yang belum pasti,” ungkap seorang pejabat keamanan di Kyiv.
Tim penyelamat dilaporkan masih bekerja keras di lokasi ledakan untuk mengevakuasi korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Serangan ini memicu kecaman internasional yang mendesak penghentian kekerasan terhadap warga tak berdosa. Hingga saat ini, pemerintah Ukraina terus memperkuat sistem pertahanan udara mereka guna mengantisipasi gelombang serangan susulan yang diprediksi akan terus dilancarkan oleh pihak Rusia.
