By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Kaltimfocus Kaltimfocus
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Olahraga
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Lainnya
Reading: Paylater dan Normalisasi Utang di Kalangan Mahasiswa
Share
Font ResizerAa
Kaltimfocus Kaltimfocus
  • Daerah
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Olahraga
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Lainnya
Search
  • Home
  • Categories
    • Daerah
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Olahraga
    • Pemerintah
    • Teknologi
    • Lainnya
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Kaltimfocus > Blog > Opini > Paylater dan Normalisasi Utang di Kalangan Mahasiswa
OpiniUmum / Lainnya

Paylater dan Normalisasi Utang di Kalangan Mahasiswa

Muhammad Farikhin
Last updated: Juni 3, 2026 9:04 pm
By Muhammad Farikhin
5 Min Read
Share
Paylater Atau Normalisasi Utang.
SHARE

Oleh: Herliza Febryani

“Beli sekarang, bayar nanti.” Kalimat sederhana ini semakin akrab di telinga masyarakat Indonesia. Melalui beberapa kali klik di aplikasi belanja maupun layanan digital, seseorang dapat memperoleh barang yang diinginkan tanpa harus membayar secara langsung. Kemudahan tersebut hadir melalui layanan paylater, sebuah inovasi keuangan digital yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi sebagian mahasiswa, paylater sering dianggap sebagai solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan keuangan ketika sedang kondisi terbatas. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul pertanyaan yang perlu dikaji lebih dalam: apakah paylater benar-benar membantu mahasiswa mengelola kebutuhan finansial, atau justru mendorong terbentuknya budaya konsumsi yang berisiko?

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan layanan keuangan digital di Indonesia. Kemajuan teknologi telah membuat berbagai transaksi menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien. Namun, peningkatan penggunaan layanan keuangan belum selalu diikuti oleh pemahaman yang memadai mengenai risiko dan tanggung jawab yang menyertainya. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 65,43 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan terus meningkat, tetapi masih terdapat kesenjangan antara penggunaan layanan keuangan dan pemahaman terhadap produk serta risikonya. Kondisi inilah yang menjadi tantangan dalam perkembangan layanan keuangan digital, termasuk paylater.

Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling dekat dengan perkembangan tersebut. Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, mereka terbiasa melakukan berbagai aktivitas secara digital, mulai dari belajar, berkomunikasi, hingga berbelanja. Kondisi ini membuat mahasiswa lebih mudah menerima berbagai inovasi keuangan, termasuk layanan paylater.

Di sisi lain, media sosial turut membentuk pola konsumsi generasi muda. Setiap hari, berbagai platform digital menampilkan tren terbaru, gaya hidup populer, serta beragam produk yang dianggap menarik untuk dimiliki.

Tidak sedikit konten yang menampilkan kemudahan berbelanja tanpa perlu mengeluarkan uang secara langsung. Situasi ini secara perlahan membentuk persepsi bahwa membeli barang dengan sistem pembayaran di kemudian hari merupakan sesuatu yang normal dan tidak memiliki risiko berarti.

Padahal, pada dasarnya paylater merupakan bentuk utang. Perbedaannya hanya terletak pada kemasan layanan yang lebih praktis dan mudah diakses. Kemudahan inilah yang sering kali membuat pengguna mengabaikan pertimbangan mengenai kemampuan finansial mereka sebelum melakukan pembelian. Ketika proses memperoleh barang menjadi sangat mudah, batas antara kebutuhan dan keinginan pun semakin kabur.

Bagi mahasiswa, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri. Sebagian besar mahasiswa belum memiliki pendapatan tetap, sementara kebutuhan akademik maupun sosial terus meningkat. Dalam situasi tertentu, paylater memang dapat membantu memenuhi kebutuhan yang mendesak. Namun, tidak sedikit penggunaan paylater yang didorong oleh keinginan mengikuti tren, memenuhi gaya hidup, atau sekadar menghindari rasa tertinggal dari lingkungan sekitar.

Risiko terbesar muncul ketika pengguna mulai menganggap cicilan sebagai hal yang biasa. Nominal pembayaran yang terlihat kecil sering kali memberikan ilusi bahwa beban keuangan tersebut mudah ditanggung. Padahal, akumulasi beberapa transaksi dapat menghasilkan kewajiban pembayaran yang jauh lebih besar di masa mendatang. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah keuangan yang mengganggu stabilitas ekonomi pribadi.

Karena itu, solusi yang diperlukan tidak hanya sebatas regulasi terhadap penyedia layanan keuangan digital. Literasi keuangan juga harus menjadi perhatian utama, khususnya di kalangan mahasiswa. Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta kesadaran terhadap konsekuensi utang perlu ditanamkan sejak dini agar mahasiswa mampu mengambil keputusan finansial secara lebih bijak.

Selain itu, kampus memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran tersebut. Pendidikan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga individu yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan, termasuk dalam mengelola keuangan pribadi. Melalui edukasi dan diskusi yang berkelanjutan, mahasiswa dapat dibekali kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, paylater bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baik maupun buruk. Kehadirannya merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang tidak dapat dihindari. Namun, manfaat atau risiko yang ditimbulkannya sangat bergantung pada cara pengguna memanfaatkannya.

Di tengah budaya serba instan yang semakin mengakar, kemampuan untuk menahan keinginan dan mempertimbangkan konsekuensi sebelum berbelanja menjadi keterampilan yang sangat penting. Sebab, kemajuan finansial tidak hanya ditentukan oleh apa yang mampu dibeli, tetapi juga oleh apa yang mampu ditunda. Tidak semua yang bisa dibeli hari ini benar-benar perlu dimiliki hari ini.

DISCLAIMER : Opini ini Tidak Ditanggung Jawab oleh Redaksi Kaltimfocus, Semua Tulisan Milik Penulis Opini

TAGGED:Herliza FebryaniMahasiswaNormalisasi UtangPaylater
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Keutamaan Zikir Istikamah untuk Ketenangan Hati Menurut Ustaz Ilham Humaidi
Next Article Razia Malam di Rutan Kelas I Samarinda, Petugas Amankan Vape hingga Kompor Rakitan

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Hasil FIFA Matchday: Timnas Indonesia Menang Tipis 1-0 Atas Mozambik
Olahraga
Vasko Ruseimy Jadi Ketua Tim Pemenangan Ade Jona di Munas HIPMI
Ekonomi & Bisnis
Dilema Strategis Israel: Risiko Serangan Rudal Iran Pasca Konflik 15 Jam
Internasional
Hasil Australian Open 2026: Rachel/Febri Melaju ke 16 Besar
Olahraga

You Might Also Like

Capsule Wardrobe dan Keberlanjutan: Solusi Fashion Ramah Lingkungan
Keutamaan Zikir Istikamah untuk Ketenangan Hati Menurut Ustaz Ilham Humaidi
Daftar Fenomena Langit Mei: Ada Hujan Meteor dan Blue Moon Langka
Jalan HM Rifaddin Dipenuhi Tanah dan Batu, Pengendara Motor Jadi Korban Kecelakaan
40 Ucapan Hari Lahir Pancasila 2026 Bahasa Indonesia dan Inggris
Kaltimfocus Kaltimfocus
© 2026 Kaltimfocus. All Rights Reserved.
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Kontak Redaksi
Bergabunglah dengan kami!
Berlangganan buletin kami dan jangan pernah ketinggalan berita terbaru, podcast, dan lainnya.
Bebas spam, berhenti berlangganan kapan saja.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?