JAKARTA – Pemerintah dan pelaku ekonomi di Jakarta kini mulai memfokuskan strategi logistik hijau sebagai langkah konkret untuk mengendalikan inflasi pangan nasional yang kerap bergejolak akibat rantai distribusi yang tidak efisien. Langkah strategis ini diambil karena lonjakan harga komoditas seperti cabai, bawang merah, dan beras seringkali bukan hanya disebabkan oleh faktor cuaca atau penurunan produksi, melainkan akibat kendala logistik yang panjang dari petani hingga ke tangan konsumen.
Implementasi logistik ramah lingkungan ini diharapkan mampu menekan biaya operasional angkutan sekaligus menjaga kualitas komoditas hortikultura selama di perjalanan. Terkait urgensi perbaikan sistem ini, laporan tersebut menekankan bahwa, “Persoalan yang kerap luput dari sorotan justru terletak pada rantai distribusi,” yang menjadi penyebab utama melambungnya harga pangan di pasar meskipun stok di tingkat produsen mencukupi.
Melalui penguatan manajemen rantai pasok yang berkelanjutan, tantangan inflasi yang terus berulang diharapkan dapat diminimalisir secara signifikan guna menjaga daya beli masyarakat. Sinergi antara pemangku kepentingan dalam mengadopsi teknologi logistik hijau menjadi kunci utama untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian pasar global.

