Oleh: Muhammad Arisandi Sapriawan
Beberapa tahun terakhir, media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Hampir setiap aktivitas, mulai dari mencari informasi, berkomunikasi, hingga menyampaikan pendapat, dilakukan melalui berbagai platform digital. Kemudahan ini tentu membawa banyak manfaat. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah fenomena yang semakin sering terlihat, yaitu kecenderungan masyarakat untuk menganggap sesuatu penting hanya karena sedang viral.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kata “viral” kini memiliki daya tarik yang luar biasa. Sebuah video, unggahan, atau pernyataan yang ramai dibicarakan dalam waktu singkat mampu menarik perhatian jutaan orang. Bahkan tidak sedikit media yang ikut mengangkat suatu isu karena tingginya perhatian publik terhadap topik tersebut. Akibatnya, ukuran penting atau tidaknya suatu informasi sering kali bergeser dari nilai dan manfaatnya menjadi seberapa banyak orang yang membicarakannya.
Fenomena ini sebenarnya cukup menarik untuk dicermati. Di satu sisi, viralitas dapat membantu penyebaran informasi dengan cepat. Banyak kasus sosial, kegiatan kemanusiaan, hingga persoalan publik yang akhirnya mendapatkan perhatian luas karena ramai dibicarakan di media sosial. Namun di sisi lain, tidak semua yang viral memiliki nilai edukasi atau manfaat bagi masyarakat. Tidak jarang suatu isu menjadi populer hanya karena mengandung unsur sensasi, kontroversi, atau hiburan semata.
Sebagai pengguna media sosial, kita sering menemukan situasi di mana sebuah informasi langsung dipercaya hanya karena banyak dibagikan oleh orang lain. Padahal, belum tentu informasi tersebut benar. Dalam beberapa kasus, masyarakat bahkan lebih cepat memberikan komentar daripada mencari tahu fakta yang sebenarnya. Akibatnya, ruang digital sering dipenuhi berbagai asumsi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Menurut saya, kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi informasi di masyarakat. Jika dahulu seseorang cenderung mencari informasi dari sumber yang dianggap kredibel, kini banyak orang justru memperoleh informasi pertama kali dari media sosial. Masalahnya, media sosial memungkinkan siapa saja menjadi penyebar informasi tanpa melalui proses verifikasi yang ketat. Ketika informasi yang belum jelas kebenarannya terus dibagikan, masyarakat berisiko terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan.
Selain itu, budaya mengejar viralitas juga mulai memengaruhi cara sebagian orang berperilaku. Tidak sedikit individu yang rela melakukan berbagai hal demi mendapatkan perhatian publik. Mulai dari membuat konten kontroversial hingga menampilkan sesuatu yang berlebihan agar mendapatkan lebih banyak penonton. Dalam situasi seperti ini, kualitas pesan sering kali menjadi nomor dua, sementara perhatian publik menjadi tujuan utama.
Hal yang perlu menjadi perhatian adalah dampak jangka panjang dari kebiasaan tersebut. Jika masyarakat terus terbiasa mengonsumsi informasi berdasarkan popularitas semata, maka kemampuan untuk berpikir kritis dapat berkurang. Orang akan lebih mudah terpengaruh oleh opini yang ramai dibandingkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Padahal, dalam kehidupan bermasyarakat, kemampuan membedakan fakta dan opini merupakan hal yang sangat penting.
Bukan berarti viralitas selalu membawa dampak buruk. Banyak gerakan sosial, kegiatan kemanusiaan, dan kampanye pendidikan yang berhasil menjangkau masyarakat luas karena dukungan media sosial. Namun yang perlu dipahami adalah bahwa viral bukanlah ukuran mutlak dari kualitas sebuah informasi. Informasi yang bermanfaat tidak selalu menjadi tren, dan sesuatu yang sedang tren belum tentu memberikan manfaat.
Karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Sebelum mempercayai atau membagikan sebuah informasi, penting untuk memeriksa sumbernya terlebih dahulu. Kebiasaan sederhana seperti membaca informasi secara utuh dan membandingkannya dengan sumber lain dapat membantu mengurangi penyebaran informasi yang keliru.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah kekurangan informasi, melainkan kemampuan untuk memilih informasi yang benar dan bernilai. Di tengah derasnya arus konten yang berlalu setiap hari, masyarakat perlu menyadari bahwa tidak semua yang viral layak dijadikan perhatian utama. Justru kemampuan untuk berpikir kritis dan selektif menjadi kunci agar media sosial dapat dimanfaatkan secara positif dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kehidupan bersama.
DISCLAIMER : Opini ini Tidak Ditanggung Jawab oleh Redaksi Kaltimfocus, Semua Tulisan Milik Penulis Opini

