MALABO – Sejumlah warga yang dideportasi dari Amerika Serikat dilaporkan mengalami penyiksaan dan penyekapan secara tidak manusiawi di sebuah hotel di Malabo, Guinea Khatulistiwa, yang kini beralih fungsi menjadi penjara mengerikan. Para pria tersebut diduga menjadi korban kekerasan sistematis oleh pemerintah otokratis setempat yang merupakan mitra dalam program deportasi pemerintahan Presiden Donald Trump. Laporan saksi mata mengungkapkan bahwa para deportan dibawa dalam kondisi kepala tertutup (hooded) dan mengalami pemukulan berat setibanya mereka di lokasi tersebut untuk menjalani masa penahanan.
Kondisi di dalam fasilitas tersebut digambarkan sangat jauh dari standar kemanusiaan, di mana para tahanan hidup di bawah ancaman kekerasan fisik setiap harinya. Salah satu saksi mata yang melihat kejadian tersebut mengungkapkan betapa brutalnya perlakuan yang diterima para tahanan. “Mereka memperlakukan para deportan seperti penjahat berbahaya, menutup kepala mereka dengan kain, dan memberikan pukulan bertubi-tubi tanpa alasan yang jelas di dalam hotel tersebut,” ujar seorang saksi terkait situasi mencekam di sana.
Kemitraan antara Amerika Serikat dan pemerintah Guinea Khatulistiwa dalam program pemulangan warga ini kini menuai kritik tajam dari berbagai aktivis kemanusiaan internasional. Kerja sama ini dinilai mengabaikan keselamatan nyawa para deportan karena mengirim mereka kembali ke tangan rezim yang represif. Hingga saat ini, situasi di hotel yang menjadi penjara tersebut masih terus dipantau di tengah desakan agar ada investigasi independen terkait pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi.
