LONDON – Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, melayangkan kecaman keras terhadap pemerintah Amerika Serikat terkait rencana penyiaran langsung proses eksekusi mati mantan tentara Nidal Hasan yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Langkah provokatif ini dinilai melanggar etika kemanusiaan global, di mana Nidal Hasan merupakan terpidana mati atas kasus penembakan massal di pangkalan militer Fort Hood pada tahun 2009 yang menewaskan belasan orang.
Burnham menegaskan bahwa mempertontonkan proses pencabutan nyawa manusia sebagai konsumsi publik adalah sebuah kemunduran bagi peradaban modern. Ia mendesak otoritas terkait untuk membatalkan rencana siaran tersebut karena dianggap tidak memiliki urgensi hukum selain hanya menampilkan kekerasan. “Rencana untuk menyiarkan eksekusi ini adalah tindakan yang benar-benar menjijikkan dan tidak memiliki tempat dalam masyarakat yang beradab,” tegas Burnham dalam pernyataan resminya.
Kasus Nidal Hasan sendiri memang telah menjadi perhatian dunia sejak aksi penembakan brutalnya terungkap. Meskipun tindakan kriminal yang dilakukannya sangat berat, namun rencana penyiaran secara langsung (live) tetap memicu kontroversi luas di kancah internasional. Banyak pihak khawatir bahwa tontonan tersebut justru akan menciptakan preseden buruk dalam sistem keadilan dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh negara-negara demokrasi.

