KATHMANDU – Bencana banjir bandang dahsyat melanda Nepal baru-baru ini, menyebabkan sedikitnya 1.300 orang tewas dan lebih dari 5.000 warga lainnya dinyatakan hilang setelah luapan air sungai yang ekstrem menyapu permukiman serta infrastruktur penting. Mujib Mashal, Kepala Biro Asia Selatan, melaporkan bahwa intensitas hujan yang luar biasa telah mengubah aliran sungai di sepanjang wilayah Nepal menjadi arus mematikan yang menghancurkan jembatan dan memutus akses jalan utama secara total.
Dampak dari bencana ini dirasakan sangat masif, di mana banyak kota kecil rata dengan tanah akibat terjangan air dan material lumpur yang datang tiba-tiba. Tim penyelamat hingga kini masih terus berupaya melakukan pencarian korban di tengah puing-puing bangunan, meskipun kendala akses logistik akibat hancurnya sarana transportasi menjadi tantangan terbesar dalam proses evakuasi massal tersebut.
Dalam laporannya saat menelusuri jalur kerusakan di sepanjang sungai, Mujib Mashal menggambarkan betapa mengerikannya kekuatan alam yang menghantam wilayah tersebut dalam waktu singkat. “Sungai-sungai itu berubah menjadi aliran air mematikan yang menyapu habis seluruh kota, jembatan, dan jalan,” ungkap Mashal saat menyaksikan langsung skala kehancuran yang ditinggalkan oleh bencana banjir tersebut. Tragedi ini kini menjadi sorotan dunia sebagai salah satu bencana alam paling mematikan di kawasan Asia Selatan tahun ini.
