NEW DELHI – Para pemimpin negara anggota BRICS, termasuk China, Rusia, dan India, dijadwalkan berkumpul di New Delhi pada akhir pekan ini untuk mengadakan pertemuan puncak guna membahas penguatan aliansi strategis di tengah gejolak geopolitik. Pertemuan penting ini dilaksanakan di tengah ancaman perang yang berkepanjangan dan melonjaknya harga energi global yang berisiko mengganggu stabilitas ekonomi negara anggota. Meskipun sering terjadi ketegangan internal, blok ini tetap menjadi daya tarik bagi kekuatan ekonomi baru yang ingin memperkuat posisi tawar mereka terhadap dominasi Barat.
Dinamika internal BRICS saat ini memang sedang diuji oleh berbagai kepentingan yang berbeda, namun ambisi untuk menciptakan tatanan dunia baru tetap menjadi perekat utama. Tantangan ekonomi akibat inflasi energi menjadi salah satu agenda mendesak yang harus segera diselesaikan agar persatuan antar anggota tidak terpecah. Terkait situasi ini, seorang analis menekankan bahwa, “Perang dan lonjakan harga energi mengancam akan merusak persatuan, tetapi daya tarik ekonomi kelompok ini tetap sulit untuk diabaikan oleh para pemimpin dunia yang mencari alternatif kerja sama baru.”
Keanggotaan BRICS yang terus meluas menunjukkan bahwa banyak negara berkembang melihat blok ini sebagai wadah untuk menyuarakan kepentingan ‘Global South’ yang lebih inklusif. Keberhasilan KTT di New Delhi akan sangat bergantung pada bagaimana para pemimpin menyeimbangkan perbedaan pandangan politik mereka dengan kebutuhan mendesak akan keamanan energi dan stabilitas pasar. Ke depannya, BRICS diharapkan mampu merumuskan kebijakan ekonomi kolektif yang lebih resilien dalam menghadapi tekanan ekonomi internasional yang semakin kompleks.
