JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hebat melanda berbagai wilayah strategis di Indonesia sepanjang tahun 2026, menghanguskan ribuan hektare lahan di tengah ancaman fenomena iklim ekstrem El Nino Godzilla. Bencana yang telah menimbulkan kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah ini kian memburuk akibat kombinasi cuaca panas ekstrem dan aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkendali. Pemerintah dan tim satgas terus berupaya memadamkan api yang menyebar cepat guna melindungi ekosistem serta kesehatan masyarakat dari kabut asap lintas batas.
Meski faktor cuaca menjadi pendorong utama keringnya lahan, otoritas terkait menekankan bahwa sebagian besar titik api tidak muncul secara alami melainkan karena faktor manusia. “Berdasarkan investigasi tim di lapangan, tercatat sekitar 90 persen kebakaran ini terjadi akibat ulah manusia, baik melalui pembukaan lahan dengan cara membakar maupun kelalaian di area rawan,” tegas salah satu pejabat berwenang dalam keterangan resminya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif dalam menjaga lahan masih menjadi tantangan besar di tengah cuaca ekstrem.
Fenomena El Nino Godzilla tahun ini pun dipandang sebagai katalisator yang membuat intensitas api sulit dikendalikan dan menjadi alasan mengapa bencana serupa terus berulang setiap tahun. Langkah mitigasi yang jauh lebih tegas serta penegakan hukum bagi para pelaku pembakar lahan kini menjadi fokus utama untuk memutus rantai bencana tahunan. Jika tidak segera diatasi, dampak Karhutla 2026 diprediksi akan memperburuk krisis iklim nasional dan mengganggu target keberlanjutan lingkungan hidup secara global.

