TEL AVIV – Badan intelijen Israel, Mossad, dilaporkan telah menjalankan operasi rahasia selama bertahun-tahun untuk membina mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, sebagai aset intelijen sekaligus calon pemimpin strategis yang sejalan dengan kepentingan mereka. Rencana ambisius ini mencapai puncaknya pada hari-hari pertama pecahnya perang baru-baru ini, di mana Mossad mencoba mengevakuasi Ahmadinejad ke sebuah rumah aman di Iran untuk mengamankan posisinya. Namun, upaya infiltrasi tingkat tinggi yang bertujuan mengguncang stabilitas internal Teheran tersebut akhirnya berujung pada kegagalan besar.
Proses pembinaan atau ‘grooming’ terhadap Ahmadinejad dilakukan dengan sangat teliti guna menjadikannya pion kunci dalam skema pengumpulan informasi rahasia serta perubahan peta politik di jantung Republik Islam Iran. Meskipun Ahmadinejad dikenal luas karena retorika kerasnya terhadap Israel di masa lalu, intelijen Israel melihat peluang strategis untuk memanfaatkan pengaruhnya di tengah faksi-faksi politik Iran yang terpecah. Upaya ini merupakan salah satu misi paling berani dalam sejarah persaingan antara kedua negara yang telah lama berseteru di kawasan Timur Tengah.
Kegagalan rencana evakuasi ke rumah aman tersebut menunjukkan betapa kompleks dan berisikonya operasi lapangan di wilayah yang dijaga ketat oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Menanggapi bocornya detail operasi ini, seorang narasumber dari kalangan intelijen menyatakan, “Ini adalah upaya bertahun-tahun untuk menanamkan pengaruh di level tertinggi, namun pada akhirnya, variabel keamanan di lapangan memaksa rencana besar ini runtuh seketika.” Hingga saat ini, laporan mengenai keterlibatan rahasia tersebut terus menjadi sorotan dunia internasional karena potensi dampaknya terhadap geopolitik Iran.
