TEHERAN – Warga di berbagai kota di Iran, termasuk Teheran, kini tengah berjuang menghadapi tekanan psikologis dan kelelahan mental yang hebat akibat ancaman perang yang terus membayangi negara tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Meski aktivitas harian mulai kembali normal secara bertahap, kecemasan mendalam menyelimuti masyarakat seiring dengan memburuknya kondisi ekonomi dan adanya pembatasan akses internet yang dilakukan oleh pihak otoritas setempat di tengah situasi konflik yang memanas.
Kondisi traumatis ini terekam jelas dalam berbagai unggahan masyarakat di media sosial yang menggambarkan upaya mereka untuk bertahan di bawah tekanan luar biasa. Salah satu ungkapan yang mencerminkan keputusasaan kolektif tersebut datang dari seorang warga yang mengaku sangat terguncang dengan situasi keamanan yang tidak menentu. “Tubuh saya gemetar karena stres,” tulis salah satu warga Iran dalam unggahan personalnya, menggambarkan betapa beratnya beban mental yang harus dipikul akibat bayang-bayang perang.
Selain masalah kesehatan mental, masyarakat Iran juga harus menghadapi hantaman krisis ekonomi yang semakin sulit diprediksi akibat ketegangan geopolitik. Pembatasan akses digital semakin mengisolasi warga, membuat upaya untuk melanjutkan kehidupan normal terasa jauh lebih berat bagi mereka yang terdampak. Kombinasi antara ketidakpastian keamanan dan beban ekonomi ini menciptakan trauma berkepanjangan bagi penduduk sipil yang merindukan stabilitas di tanah air mereka.

