JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah sebesar 57 poin atau sekitar 0,33 persen ke level Rp17.394 per dolar AS pada akhir perdagangan di Jakarta, Senin (4/5/2026). Penurunan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang membuat posisi mata uang Garuda semakin tertekan dan merosot mendekati ambang level psikologis baru sebesar Rp17.400 per dolar AS.
Pelemahan ini mencerminkan tingginya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Seorang analis pasar uang menyatakan bahwa tren negatif ini dipicu oleh sentimen eksternal yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir. “Tekanan terhadap Rupiah saat ini dipengaruhi oleh proyeksi suku bunga global yang masih tinggi, sehingga investor cenderung beralih ke mata uang dolar,” ungkapnya saat memberikan keterangan resmi mengenai kondisi pasar hari ini.
Hingga penutupan perdagangan, fluktuasi Rupiah terus dipantau ketat oleh pelaku pasar dan pemerintah guna mengantisipasi dampak lebih lanjut terhadap stabilitas ekonomi nasional. Bank Indonesia diharapkan terus melakukan langkah-langkah intervensi untuk menjaga nilai tukar agar tidak merosot lebih dalam. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data ekonomi domestik serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat dalam jangka pendek.

