ANKARA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengakui bahwa dirinya harus berganti pesawat secara diam-diam saat hendak bertolak pulang dari KTT NATO di Turki pada bulan lalu demi menghindari ancaman keamanan dari Iran. Langkah evakuasi taktis ini dilakukan di bawah pengawasan ketat Dinas Rahasia AS (Secret Service) guna memastikan keselamatan sang presiden di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah tersebut.
Keputusan untuk tidak menggunakan pesawat kepresidenan utama atau Air Force One seperti biasanya diambil setelah tim intelijen mendeteksi adanya risiko serangan yang menyasar rute perjalanan Trump. Meskipun detail ancaman tersebut tidak dibuka sepenuhnya ke publik, protokol keamanan ini menunjukkan tingkat kerawanan tinggi yang dihadapi delegasi Amerika Serikat selama berada di kawasan perbatasan Eropa dan Asia tersebut.
Dalam pengakuannya, Trump menjelaskan bahwa prosedur ini merupakan perintah langsung dari tim pengamanan profesionalnya yang tidak bisa ditawar. “Dinas Rahasia mengatakan kepada saya bahwa kami harus berpindah pesawat demi alasan keamanan yang sangat mendesak akibat adanya ancaman nyata dari Iran,” ujar Trump saat memberikan keterangan terkait situasi darurat tersebut.
Insiden pergantian pesawat ini menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran yang kian memanas. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih terus meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi bagi seluruh mobilitas pejabat negara di luar negeri, terutama di wilayah-wilayah yang bersinggungan langsung dengan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.

