SAMARINDA – Koordinator Lapangan Aliansi Perjuangan Masyarakat Kalimantan Timur (APMKT), Erly Sopiansyah, membantah tuduhan yang menyebut dirinya meminta uang sebesar Rp2 miliar kepada Sudarno.
Erly mengakui dirinya memang pernah bertemu dengan Sudarno di salah satu kafe di Samarinda. Namun, ia menegaskan pertemuan tersebut tidak pernah membahas permintaan uang maupun nominal Rp2 miliar seperti yang dituduhkan.
“Awalnya dia yang ngajak ngopi, saya ikut saja saudara SD ini. Dan tidak ada pembahasan nilai,” kata Erly, Kamis (16/7/2026).
Ia kembali menegaskan bahwa selama pertemuan berlangsung tidak pernah ada pembicaraan mengenai permintaan uang, apalagi tindakan yang mengarah pada pemerasan.
“Tidak ada. Demi Allah tidak ada. Saya bisa bersumpah, tidak pernah ada pembahasan ataupun penyebutan nominal Rp2 miliar saat pertemuan di The Cafe,” tegasnya.
Menurut Erly, pembahasan dalam pertemuan itu hanya berkaitan dengan rencana nota kesepahaman (MoU) dan sejumlah aspirasi yang akan disampaikan kepada Gubernur Kalimantan Timur.
Ia menjelaskan, angka Rp2 miliar baru sempat terlontar beberapa hari setelah pertemuan tersebut saat terjadi percakapan terpisah mengenai kebutuhan operasional aliansi. Saat itu, kata dia, Sudarno menanyakan perkiraan kebutuhan dana.
“Dia bertanya, ‘kira-kira berapa kebutuhannya?’. Saya jawab spontan, ‘mungkin dua miliar kali’. Itu pun hanya perkiraan, bukan permintaan, apalagi permintaan kepada beliau,” ujarnya.
Erly menegaskan ucapan tersebut tidak dapat dimaknai sebagai permintaan uang ataupun tindakan pemerasan.
“Kalau saya bilang, ‘saya minta uang’, nah itu baru jelas. Tapi itu tidak pernah saya ucapkan. Jangan disangkutpautkan dengan kebutuhan internal aliansi,” katanya.
Ia juga mempertanyakan pernyataan Sudarno yang menyebut pembahasan mengenai angka Rp2 miliar terjadi saat pertemuan di kafe. Menurut Erly, hal tersebut dapat dibuktikan apabila rekaman CCTV di lokasi masih tersedia.
“Kalau memang ada CCTV dari awal sampai selesai pertemuan, silakan dibuka. Kalau memang ada pembahasan Rp2 miliar di situ, pasti akan terlihat. Saya justru lebih senang kalau dibuktikan,” tegasnya.
Selain membantah dugaan pemerasan, Erly juga menilai terdapat sejumlah fakta yang menurutnya dipelintir, termasuk terkait kedatangan anggota APMKT ke kediaman Sudarno yang sebelumnya dilaporkan sebagai dugaan intimidasi.
Ia mengklaim kedatangan tersebut diketahui Ketua RT setempat dan berlangsung tanpa paksaan.
“RT sendiri mengetahui kedatangan kami. Bahkan saat itu Pak Sudarno memanggil RT dan mengatakan bahwa kami adalah teman-temannya. Jadi jangan diputarbalikkan seolah-olah terjadi intimidasi atau aksi premanisme,” ucapnya.
Erly menegaskan pihaknya menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan siap memberikan seluruh bukti yang diperlukan kepada penyidik.
“Kami menghormati proses hukum. Semua ada saksi, ada rekaman video, dan kalau diperlukan ada CCTV. Biarlah fakta yang berbicara,” pungkasnya. (*)

