GAZA – Sejumlah anak-anak di Gaza, Palestina, dilaporkan mengalami trauma berat hingga kehilangan kemampuan bicara secara mendadak akibat terus-menerus menyaksikan kekerasan dan kematian di tengah konflik yang masih berkecamuk. Fenomena memprihatinkan ini menarik perhatian Katrin Glatz Brubakk, seorang psikoterapis anak, yang baru-baru ini melakukan perjalanan ke wilayah tersebut untuk memberikan bantuan psikologis bagi para korban muda yang jiwanya terguncang hebat akibat kehancuran di sekitar mereka.
Dalam misinya membantu pemulihan mental, Brubakk menemukan bahwa diam menjadi bentuk pelarian psikologis bagi anak-anak yang tidak mampu lagi memproses kengerian yang mereka alami. Banyak dari mereka yang sebelumnya ceria kini berubah menjadi pasif dan menarik diri dari komunikasi dunia luar sebagai bentuk pertahanan diri. “Beberapa anak merespons penderitaan yang luar biasa itu dengan diam,” ungkap Katrin Glatz Brubakk saat menjelaskan bagaimana dampak psikologis dari kehancuran permanen memengaruhi fungsi kognitif dan verbal anak-anak di Gaza.
Upaya pemulihan bagi generasi muda di Gaza diprediksi akan memakan waktu yang sangat lama mengingat skala trauma yang dialami sangat masif. Para ahli kesehatan mental internasional mendesak adanya perhatian lebih serius terhadap krisis psikologis ini guna mencegah dampak trauma permanen. Dukungan bantuan medis dan pendampingan psikoterapi menjadi sangat krusial agar anak-anak tersebut dapat kembali menemukan suara mereka dan pulih dari ingatan buruk masa perang.

