JAKARTA – Masyarakat modern di Jakarta kini mulai menyadari bahwa memilih sikap diam atau mengambil jarak dari derasnya arus informasi di media sosial bukan merupakan bentuk sikap apatis, melainkan langkah strategis untuk menjaga kesehatan mental di tengah keriuhan dunia saat ini. Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap kelelahan digital yang kian meningkat, di mana individu merasa perlu menyaring asupan informasi agar tetap memiliki energi positif untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Para ahli psikologi menekankan bahwa kemampuan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk opini publik sangat krusial demi menjaga kewarasan berpikir. Seorang pengamat sosial menjelaskan bahwa pembatasan informasi ini justru membuat kepedulian seseorang menjadi lebih bermakna. “Memilih diam bukan berarti kita tidak peduli dengan isu sekitar, justru ini adalah kunci utama untuk mempertahankan ‘kewarasan’ agar kita bisa tetap peduli secara berkualitas tanpa harus merasa lelah secara mental,” ujarnya saat menanggapi fenomena beban informasi berlebih.
Dengan mengambil jarak sejenak, seseorang dapat memproses setiap peristiwa dengan lebih jernih tanpa merasa tertekan oleh ekspektasi untuk selalu merespons segala hal secara instan. Kesadaran untuk beristirahat dari kebisingan dunia maya ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih bijak dan sehat secara psikologis dalam menyikapi setiap dinamika sosial yang terjadi di masa depan.

