PARIS – Warga di berbagai wilayah Prancis kini mulai berbondong-bondong memasang perangkat pendingin udara (AC) di kediaman mereka sepanjang pekan ini guna menghadapi gelombang panas ekstrem yang melanda negara tersebut. Fenomena ini menandai pergeseran budaya yang signifikan, mengingat masyarakat Prancis selama ini dikenal memiliki tradisi kuat untuk menolak penggunaan AC demi alasan estetika bangunan dan kelestarian lingkungan. Suhu udara yang melonjak drastis hingga mencapai level membahayakan memaksa penduduk setempat untuk memprioritaskan kesehatan dan kenyamanan di dalam ruangan.
Keputusan massal warga untuk beralih ke teknologi pendingin ini dipicu oleh cuaca panas yang dijuluki sebagai ‘gelombang panas neraka’ karena intensitasnya yang tidak lazim. Permintaan jasa pemasangan dan pembelian unit AC di berbagai toko elektronik dilaporkan mengalami kenaikan pesat dalam beberapa hari terakhir. “Kami benar-benar tidak punya pilihan lain karena suhu di dalam rumah sudah tidak lagi tertahankan bagi anak-anak dan lansia,” ujar Pierre, salah seorang warga Paris yang akhirnya memutuskan memasang AC untuk pertama kalinya.
Tren pemasangan AC yang masif ini juga memicu diskusi hangat mengenai beban konsumsi energi nasional Prancis di tengah krisis iklim global. Meski menjadi solusi instan bagi warga, para ahli lingkungan tetap mengingatkan pentingnya desain bangunan yang lebih adaptif dan berkelanjutan untuk menghadapi masa depan yang diprediksi akan semakin panas. Pemerintah Prancis pun terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap risiko dehidrasi dan dampak buruk serangan panas (heatstroke) selama periode ekstrem ini berlangsung.

